Minggu, 12 Maret 2017

a reflection, a flection

hari yang berat, keobodohan pada rabu sore, minggu yang menjadi tak tenang, semua akan selalu kembali pada momen refleksi. entah pada posisi tubuh seperti apa anta melakukanya atau cara apa tapi momen refleksi adalah suatu hal yang menarik. semuanya berputar di dalam pikiran, semuanya terus menerus tertarik kebelakang, setiap detail mulai muncul dan setiap pertnyaan asumsi-hipotesis-analisis yang secara tidak sadar kita miliki semuanya terpakai. refleksi kadang terlalu dalam, terlalu dalam hingga itu menyakitkan, terluka dalam pikiran tapi darah tak mengucur lewat hidung. refleksi yang terlalu dalam  membawa kedalam prinsip-prinsip yang kadang tak kita percayai, apa saja.

opini kedua juga memegang peranan penting, hasil refleksi selalu butuh anti-tesis, menghasilkan sintesa lalu anti-tesis, begitu terus sampai mampus. opini juga makin membuat kekacauan dalam pikiran, membuat ngacengmu tak berguna, makananmu menjadi tak layak santap, dan kentutmu entah kenapa menjadi lebih segar di bandingkan bau ketiak. kekacuan-kekacuan selalu muncul, rasa bersalah selalu tumbuh, dan keluarlah bibit-bibit ketakutan akan masa depan dan semua tatapan terasa tertuju padamu, setiap gerakan, setiap desisan nafas, setiap  selmu yang mulai roboh dari keberadaan eksistensialnya.

permasalahn idealmu akan menjadi semu, tetiba kamu lebih mementingkan permasalahan aktual dalam hidup, mulai menjadikan bau kencingmu adalah sumber kenapa kamu belum cum-laude sampai sekarang.

lalu pada malam hari, kamu terpikirkan satu hal, bahwa apabila semua telah di gariskan dan segalanya berada di tangan yang transendetal bernama tuhan. maka, apapun yang kamu lakukan sudah tergariskan sehingga kebodohanmu dan siapapun yang berada di hidupmu atau kamu mencoba berada di hidpnya menjadikan tak berarti apa-apa karena apabila kamu melakukanya, semua tak akan menemukan akhir yang layak, karena yang layak sudah tergariskan.

0 comments:

Posting Komentar

Formulir Kontak